Sebuah judul yang cocok untuk menggambarkan hidupku masa lalu dan detik ini saya menulis artikel ini. Mungkin sebuah pemikiran yang cukup kontroversial tetapi itu nyata yang terjadi di diri saya. Masa lalu adalah masa terpahit dalam hidup saya, saya mengalami titik nadir yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana tidak? saya sudah mengalami tahap Depresi yang menurut psikiater
"suatu kondisi yang
lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri" (sumber : Wikipedia).
Ya, pengertian itu sudah cukup menggambarkan kondisi saya saat itu, tidak bisa berpikir sehat, hanya kesedihan yang terus terpikirkan, sensitif terhadap lingkungan, menyendiri dan apabila dalam jangka panjang tidak tertolong kalau tidak bunuh diri, kemungkinan yang terjadi bisa menjadi gila atau gangguan jiwa yang berat. Tetapi Tuhan menakdirkan saya lain, Tuhan masih sayang sama saya, Tuhan masih memberi harapan kepada saya untuk berbuat lebih banyak di dunia, dan orang yang paling berjasa supaya saya bangkit dari keterpurukan bukanlah seorang Psikiater,tetapi orang tua ku terutama Ayah saya. Beliau mendorong saya untuk melupakan masa lalu yang sangat sulit untuk saya lupakan, tetapi beliau gigih, tidak mudah putus asa, dan sangat sabar membangkitkan gairah hidup saya. Mungkin Tuhan memberi itu lewat perantara Ayah saya. dan dari itu saya merenungkan diri belajar dari kesalahan yang lalu supaya tidak terulang kembali atau dapat diandaikan tidak jatuh pada lubang yang sama.
itulah sedikit gambaran tentang saya yang dapat membuat lebih bijaksana menjalani hidup ini dan menyikapi secara dewasa apabila mengalami kegagalan atau kesulitan yang terkadang emosi jiwa mencoba menghalangi, tetapi apabila kita berhasil melewati itu niscaya kita menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi badai kehidupan ini.
Mungkin cukup sampai disini, artikel pendek ini semoga bermanfaat bagi para pembaca. bagi para pembaca saya tunggu komentarnya, terimakasih.
Ya, pengertian itu sudah cukup menggambarkan kondisi saya saat itu, tidak bisa berpikir sehat, hanya kesedihan yang terus terpikirkan, sensitif terhadap lingkungan, menyendiri dan apabila dalam jangka panjang tidak tertolong kalau tidak bunuh diri, kemungkinan yang terjadi bisa menjadi gila atau gangguan jiwa yang berat. Tetapi Tuhan menakdirkan saya lain, Tuhan masih sayang sama saya, Tuhan masih memberi harapan kepada saya untuk berbuat lebih banyak di dunia, dan orang yang paling berjasa supaya saya bangkit dari keterpurukan bukanlah seorang Psikiater,tetapi orang tua ku terutama Ayah saya. Beliau mendorong saya untuk melupakan masa lalu yang sangat sulit untuk saya lupakan, tetapi beliau gigih, tidak mudah putus asa, dan sangat sabar membangkitkan gairah hidup saya. Mungkin Tuhan memberi itu lewat perantara Ayah saya. dan dari itu saya merenungkan diri belajar dari kesalahan yang lalu supaya tidak terulang kembali atau dapat diandaikan tidak jatuh pada lubang yang sama.
itulah sedikit gambaran tentang saya yang dapat membuat lebih bijaksana menjalani hidup ini dan menyikapi secara dewasa apabila mengalami kegagalan atau kesulitan yang terkadang emosi jiwa mencoba menghalangi, tetapi apabila kita berhasil melewati itu niscaya kita menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi badai kehidupan ini.
Mungkin cukup sampai disini, artikel pendek ini semoga bermanfaat bagi para pembaca. bagi para pembaca saya tunggu komentarnya, terimakasih.



0 komentar:
Posting Komentar